LAMPUNG SELATAN - Jauh sebelum Institut Teknologi Sumatera (ITERA) resmi berdiri sebagai perguruan tinggi negeri melalui Peraturan Presiden Nomor 124 Tahun 2014, nama Institut Teknologi Sumatera telah lebih dahulu muncul dalam publikasi ilmiah internasional IEEE. Salah satu jejak paling awal tersebut adalah paper berjudul “Channel Estimation for LTE Downlink in High Altitude Platforms (HAPs) Systems” yang dipresentasikan pada 1st International Conference of Information and Communication Technology (ICoICT) 2013 di Bandung pada 20–22 Maret 2013. Paper tersebut ditulis oleh Muhammad Reza Kahar Aziz dari ITERA bersama Iskandar dari Institut Teknologi Bandung.
Publikasi ini memiliki DOI 10.1109/ICoICT.2013.6574570 dan membahas estimasi kanal pada sistem LTE downlink berbasis OFDM yang memanfaatkan High Altitude Platforms (HAPs) sebagai kanal komunikasi. Metode Least Square (LS) dan Linear Minimum Mean Square Error (LMMSE) dibandingkan berdasarkan Mean Square Error dan Bit Error Rate pada berbagai sudut elevasi, kecepatan pengguna, serta orde modulasi.
Muncul Sebelum ITERA Resmi Menjadi PTN
Nilai sejarah paper ini menjadi semakin kuat ketika ditempatkan dalam kronologi berdirinya ITERA. Kegiatan akademik ITERA telah dimulai sejak 2012 dalam masa pembinaan ITB, sedangkan status resmi ITERA sebagai perguruan tinggi negeri baru ditetapkan pada 6 Oktober 2014.
Artinya, publikasi IEEE tersebut terbit sekitar satu setengah tahun sebelum ITERA resmi menjadi PTN. Metadata publikasinya sudah mencantumkan afiliasi Electrical Engineering, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Indonesia.
Dalam daftar publikasi resmi Teknik Elektro ITERA dan direktori peneliti ITERA, paper ICoICT 2013 ini juga tercatat sebagai salah satu publikasi internasional paling awal yang membawa nama ITERA.
Berdasarkan penelusuran internal dan riwayat publikasi yang tersedia, paper tersebut diduga kuat merupakan paper Scopus pertama ITERA. Klaim “pertama” ini tetap idealnya dikonfirmasi melalui audit bibliografi institusi terhadap seluruh metadata Scopus ITERA pada 2012–2013.
19 Sitasi: Angka yang Bermakna untuk Paper Konferensi
Hingga kini, paper tersebut telah memperoleh sekitar 19 sitasi di Google Scholar. Untuk sebuah paper konferensi internasional di bidang teknik yang membahas topik cukup spesifik pada 2013, jumlah tersebut merupakan capaian yang patut diapresiasi.
Nilai dampaknya tidak hanya terletak pada jumlah sitasi, tetapi juga pada siapa dan dalam konteks apa paper tersebut dikutip. Berdasarkan daftar karya yang mengutipnya, paper ini masuk dalam rantai literatur yang lebih luas mengenai HAPS, airborne communication networks, wireless sensor systems, LTE-HAPS, dan komunikasi non-terestrial.
Di antaranya terdapat karya survei dan artikel dari jurnal serta prosiding internasional bereputasi, termasuk literatur IEEE, buku ilmiah, tesis/disertasi, serta publikasi peneliti dari berbagai negara. Dengan demikian, paper tersebut tidak hanya dibaca secara lokal, tetapi turut masuk ke dalam percakapan akademik global mengenai komunikasi udara dan jaringan non-terestrial.
Tema yang Mendahului Zamannya
Pada 2013, kombinasi LTE, OFDM, channel estimation, dan HAPS masih merupakan topik yang relatif niche. Lebih dari satu dekade kemudian, konsep komunikasi berbasis platform udara dan non-terestrial justru berkembang menjadi bagian penting dari arsitektur 5G-Advanced dan 6G.
HAPS kini semakin sering dibahas bersama satelit, UAV, dan Non-Terrestrial Networks sebagai solusi untuk memperluas konektivitas, menjangkau wilayah terpencil, menyediakan komunikasi darurat, dan mendukung jaringan generasi berikutnya.
Karena itu, paper 2013 tersebut dapat pula dilihat sebagai salah satu embrio awal perjalanan riset komunikasi nirkabel ITERA yang kemudian berkembang menuju wireless geolocation, 6G localization and sensing, serta teknologi komunikasi masa depan.
Dari Publikasi Menjadi Daya Tarik Talenta
Dampak paper ini ternyata tidak hanya bersifat bibliometrik.
Menurut pengalaman yang disampaikan oleh Muhammad Reza Kahar Aziz, keberadaan ITERA di basis data Scopus melalui publikasi awal tersebut pernah menjadi salah satu sinyal akademik yang menarik perhatian calon dosen. Seorang lulusan magister UGM melihat bahwa ITERA, yang ketika itu masih sangat muda, telah memiliki jejak publikasi Scopus. Hal tersebut ikut membentuk persepsi bahwa ITERA sedang serius membangun ekosistem riset. Calon dosen tersebut kemudian bergabung dengan ITERA pada 2016, melanjutkan studi doktoral di Jepang, dan kini menjadi dosen di Program Studi Teknik Sistem Energi ITERA.
Kisah ini menunjukkan bahwa satu publikasi ilmiah dapat mempunyai dampak yang jauh melampaui sitasi. Publikasi dapat menjadi sinyal kredibilitas institusi, memperkuat visibilitas kampus baru, dan bahkan membantu menarik sumber daya manusia berkualitas.
Empat Lapisan Dampak
Paper ICoICT 2013 tersebut dapat dipandang memiliki setidaknya empat lapisan dampak.
Pertama, scientific impact, karena masuk dalam ekosistem IEEE dan memperoleh sitasi dari karya-karya selanjutnya.
Kedua, institutional visibility, karena nama ITERA mulai terlihat di basis data ilmiah internasional sejak masa awal perintisan.
Ketiga, talent attraction, karena keberadaan jejak riset tersebut membantu membangun kepercayaan calon akademisi terhadap masa depan ITERA.
Keempat, long-term multiplier impact. Talenta yang bergabung ke sebuah universitas kemudian dapat menghasilkan mahasiswa, publikasi, kolaborasi, inovasi, dan generasi peneliti baru selama puluhan tahun.
Karena itu, dampak sebuah publikasi tidak selalu dapat direduksi hanya menjadi angka citation count.
Dari Jejak Awal Menuju Ekosistem Riset Global
Teknik Elektro ITERA sendiri telah tumbuh sejak generasi pertama ITERA pada 2012 dan berkembang bersama perjalanan institusi hingga menjadi bagian dari Fakultas Teknologi Industri saat ini.
Jika paper HAPS-LTE 2013 dapat disebut sebagai “first research footprint” ITERA, perjalanan berikutnya menunjukkan bagaimana fondasi tersebut terus berkembang.
Dari penelitian HAPS dan LTE, riset berlanjut menuju wireless geolocation berbasis factor graph, positioning, 6G localization and sensing, hingga kolaborasi dengan konsorsium internasional.
Perjalanan tersebut menggambarkan bahwa pembangunan reputasi universitas bukan hanya ditentukan oleh satu paper besar, tetapi oleh kesinambungan antara publikasi, kolaborasi, pengembangan SDM, dan konsistensi agenda riset.
Satu Paper, Dampak yang Lebih Luas
Paper 2013 ini mungkin hanya tercatat sebagai satu dokumen dalam basis data Scopus. Namun bagi sejarah ITERA, nilainya dapat jauh lebih besar.
Ia menjadi salah satu bukti bahwa ketika ITERA bahkan belum resmi berdiri sebagai PTN, institusi ini sudah mulai meninggalkan jejak di literatur ilmiah global.
Dari jejak kecil tersebut lahir visibilitas. Dari visibilitas lahir kepercayaan. Dari kepercayaan, talenta mulai datang dan ekosistem riset perlahan terbentuk.
Satu paper tidak membangun sebuah universitas sendirian. Namun satu paper dapat menjadi salah satu titik awal yang membuat sebuah universitas mulai terlihat oleh dunia.