Lampung Selatan, 14 Oktober 2026 - Institut Teknologi Sumatera (ITERA) memperkuat kesiapan menghadapi berbagai ancaman keamanan digital melalui peresmian Computer Security Incident Response Team (CSIRT) ITERA, yang dirangkaikan dengan kegiatan Seminar CyberSecurity 101: Pondasi Keamanan Siber di Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 1 ITERA.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis ITERA dalam membangun ekosistem keamanan siber kampus yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya penggunaan sistem informasi, jaringan komputer, komputasi awan, Internet of Things (IoT), serta berbagai layanan digital dalam pendidikan, penelitian, dan administrasi perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut diketuai oleh Prof. Sarwono Sutikno, Dr.Eng., Guru Besar ITERA di bidang Keamanan Siber dan Komputasi Pervasif serta dosen Program Studi Teknik Informatika ITERA. Prof. Sarwono memiliki rekam jejak panjang di bidang teknik elektro, informatika, kriptografi, dan keamanan informasi. Sebelum bergabung dengan ITERA, beliau juga pernah menjadi dosen di lingkungan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB).
Dalam rangkaian pembukaan kegiatan, Dr. Ir. Harry Yuliansyah, S.T., M.Eng., Kepala UPA Teknologi Informasi dan Komunikasi ITERA, tampil di podium menyampaikan sambutan. Dr. Harry juga merupakan dosen Program Studi Teknik Elektro ITERA, sehingga keterlibatannya dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan kuatnya irisan antara pengelolaan infrastruktur digital, teknik elektro, jaringan komunikasi, dan keamanan siber.
UPA TIK memiliki peran penting dalam pengelolaan infrastruktur jaringan, sistem informasi, serta layanan teknologi digital di lingkungan ITERA. Dengan keberadaan CSIRT, pengelolaan keamanan digital kampus dapat diperkuat melalui mekanisme respons yang lebih sistematis ketika terjadi insiden keamanan siber.
CSIRT dapat berperan dalam menangani berbagai gangguan seperti phishing, pencurian kredensial, malware dan ransomware, intrusi jaringan, kebocoran data, penyalahgunaan layanan digital, hingga serangan yang mengganggu ketersediaan layanan teknologi informasi.
Penanganan insiden melalui CSIRT tidak hanya berorientasi pada pemulihan layanan, tetapi juga dapat meliputi deteksi dan analisis insiden, mitigasi dampak, dokumentasi dan forensik, koordinasi pelaporan, serta penyusunan langkah pencegahan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
Bagi sivitas akademika Program Studi Teknik Elektro ITERA, penguatan keamanan siber memiliki relevansi yang semakin besar. Perkembangan sistem elektro modern menjadikan batas antara perangkat fisik, jaringan komunikasi, perangkat lunak, dan sistem digital semakin tipis.
Teknologi seperti smart grid, sistem kontrol industri dan SCADA, perangkat tertanam, IoT, kendaraan terkoneksi, otomasi, komunikasi nirkabel, serta jaringan 5G dan 6G membutuhkan aspek keamanan sebagai bagian integral dari desain sistem.
Pada sistem komunikasi nirkabel, ancaman keamanan juga dapat muncul dalam bentuk jamming, spoofing, manipulasi sinyal, penyusupan jaringan, maupun serangan terhadap perangkat IoT dan sistem kendali. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan siber bukan hanya wilayah ilmu komputer, tetapi telah berkembang menjadi bidang lintas disiplin yang mempertemukan Teknik Elektro, Teknik Telekomunikasi, Informatika, sistem tertanam, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi.
Keterlibatan Dr. Harry sebagai dosen Teknik Elektro sekaligus Kepala UPA TIK menjadi contoh nyata kontribusi keilmuan elektro dalam penguatan infrastruktur digital kampus. Di sisi lain, peran Prof. Sarwono sebagai Guru Besar Keamanan Siber dan Komputasi Pervasif memperkuat dimensi akademik dan riset dari pengembangan ekosistem keamanan siber ITERA.
Peresmian CSIRT ITERA juga membuka peluang lebih luas untuk kolaborasi antara UPA TIK, pusat riset, Program Studi Teknik Informatika, Teknik Elektro, Teknik Telekomunikasi, serta berbagai program studi lain di ITERA.
Bagi mahasiswa, ekosistem ini dapat berkembang menjadi ruang pembelajaran praktis melalui tugas akhir, riset keamanan IoT, analisis trafik jaringan, deteksi anomali berbasis kecerdasan buatan, keamanan komunikasi nirkabel, keamanan sistem kendali, hingga pengembangan sistem deteksi dan respons insiden.
Seminar CyberSecurity 101 yang menyertai peresmian CSIRT juga menegaskan pentingnya membangun budaya keamanan digital. Infrastruktur dan teknologi keamanan yang baik tetap membutuhkan literasi serta kesadaran pengguna agar seluruh layanan digital kampus dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab.
Dengan semakin luasnya transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi, keberadaan CSIRT ITERA menjadi bagian penting dalam membangun kampus yang tidak hanya semakin cerdas dan terkoneksi, tetapi juga semakin aman, tangguh, dan siap menghadapi tantangan keamanan siber di masa depan.
