Keberanian menjadi bagian dari generasi pertama Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menjadi awal perjalanan panjang Jauhar Ismiyadinata, alumni Teknik Elektro ITERA angkatan 2012. Lebih dari satu dekade setelah memilih kampus yang saat itu bahkan belum memiliki fasilitas seperti sekarang, Jauhar telah berkembang dari mahasiswa perintis menjadi profesional teknik dan kini dipercaya sebagai Operations and Maintenance Leader di Voltron Indonesia.
Jauhar berasal dari Cibinong, Bogor. Pada 2012, ketertarikannya terhadap ITERA tidak terlepas dari peran besar Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pendirian dan pengembangan ITERA. Keputusan memilih perguruan tinggi yang masih sangat muda tersebut membutuhkan keberanian tersendiri. Jauhar bahkan mengakui bahwa dirinya ketika itu cukup “memaksakan diri” untuk mengambil kesempatan tersebut.
Keberanian generasi awal ITERA sejalan dengan pandangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, mengenai para perintis ITERA. Menjadi dosen maupun mahasiswa pertama ITERA merupakan sebuah keberanian karena mereka memilih bergabung ketika kampus tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan.
Pada periode 2012–2014, Jauhar bersama mahasiswa ITERA angkatan pertama sempat menjalani perkuliahan dan tinggal di asrama ITB Jatinangor. Setelah kampus ITERA di Lampung diresmikan pada 2014, perjalanan akademiknya berlanjut di Sumatera hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro pada 2018.
Semasa mahasiswa, Jauhar aktif membangun pengalaman di luar ruang kuliah. Ia pernah menjadi Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Elektro dan Informatika (HMEI) pada 2015–2016, Sekretaris Unit Robotika ITERA (UROTERA) pada 2015–2016, kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum UROTERA pada 2016–2017. Ia juga menjadi Asisten Laboratorium Dasar Elektronika ITERA pada 2016–2018 serta Asisten Laboratorium Elektronika untuk Program Studi Fisika pada 2016–2017.
Salah satu bagian penting perjalanan akademiknya adalah tugas akhir mengenai inverter. Jauhar menjadi salah satu mahasiswa bimbingan tugas akhir resmi pertama Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D. Penelitian tersebut tidak berhenti sebagai tugas akhir, tetapi dikembangkan menjadi artikel ilmiah yang diterbitkan di Journal of Science and Applicative Technology (JSAT), jurnal terakreditasi SINTA 4. Implementasi perangkat kerasnya antara lain mencakup realisasi rangkaian pada PCB untuk implementasi SPWM.
Hubungan Jauhar dengan dunia akademik kemudian berlanjut setelah ia memperoleh pengalaman profesional. Ia sempat berkontribusi sebagai pembimbing tugas akhir eksternal dengan membawa persoalan dan gagasan dari dunia alat kesehatan kepada mahasiswa. Salah satunya adalah ide capstone design Uroflowmetri yang dikerjakan oleh tiga mahasiswa Teknik Elektro ITERA. Ia juga memberikan gagasan mengenai light source untuk endoskopi sebagai inspirasi topik penelitian mahasiswa.
Kontribusi tersebut menunjukkan bagaimana hubungan kampus dan alumni dapat berkembang menjadi siklus pengetahuan. Mahasiswa yang dahulu memperoleh bimbingan dari kampus kemudian kembali membawa pengalaman industri untuk membantu mahasiswa generasi berikutnya.
Karier profesional Jauhar sendiri berkembang secara bertahap. Pada 2017–2018, ia pernah menjadi trainee di PT Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pelabuhan Tarahan, Lampung. Pengalamannya mencakup maintenance peralatan serta kegiatan yang berkaitan dengan operasional loading di pelabuhan.
Pada 2019, Jauhar memasuki industri alat kesehatan sebagai Service Engineer di PT Multipard Mandiri, Jakarta. Ia menangani berbagai pekerjaan teknis, termasuk peralatan urologi, instalasi dan pengujian fungsi alat kesehatan, preventive dan corrective maintenance, serta troubleshooting.
Kemampuan teknis tersebut kemudian berkembang menjadi kemampuan kepemimpinan. Pada Januari 2021, Jauhar dipercaya menjadi Head of Service Management di PT Multipard Mandiri. Selama lebih dari lima tahun dalam posisi tersebut, ia memimpin tim teknisi alat kesehatan serta bertanggung jawab terhadap instalasi, kalibrasi, preventive maintenance, perbaikan, pengelolaan suku cadang, hingga penyelesaian masalah menggunakan pendekatan seperti Root Cause Analysis (RCA).
Tanggung jawabnya juga mencakup upaya memastikan alat kesehatan beroperasi sesuai spesifikasi, standar keselamatan, regulasi Kementerian Kesehatan, serta ketentuan keselamatan listrik dan K3. Perjalanan tersebut memperlihatkan transformasi Jauhar dari seorang engineer yang bekerja langsung dengan perangkat menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap manusia, proses, dan keandalan sistem.
Babak baru dimulai pada Maret 2026 ketika Jauhar dipercaya menjadi Operations and Maintenance Leader di Voltron Indonesia. Posisi tersebut semakin menegaskan perkembangan kariernya menuju kepemimpinan di industri.
Dengan pengalaman lebih dari tujuh tahun, kompetensinya kini mencakup system installation and maintenance, troubleshooting dan fault analysis, electrical system design, preventive dan corrective maintenance, keselamatan kerja, problem solving, serta kepemimpinan tim teknis.
Prinsip yang ditampilkan Jauhar dalam profil profesionalnya menggambarkan perjalanan tersebut: “Memimpin dengan standar, menjaga sistem tetap andal. Keandalan bukan kebetulan, tapi hasil kedisiplinan.”
Perjalanan dari mahasiswa angkatan pertama menjadi Operations and Maintenance Leader memberikan pesan tersendiri bagi mahasiswa Teknik Elektro ITERA saat ini. Keberanian mengambil keputusan ketika masa depan belum sepenuhnya terlihat dapat membuka peluang yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Pada 2012, Jauhar memilih ITERA ketika kampus tersebut masih dalam tahap awal pembangunan. Ia mengalami kuliah di Jatinangor, perpindahan ke Lampung, aktivitas organisasi, laboratorium, tugas akhir dan publikasi, kemudian memasuki dunia industri dari level trainee dan engineer. Tahun demi tahun, tanggung jawabnya meningkat hingga akhirnya dipercaya memimpin operasi dan pemeliharaan.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan perkembangan generasi pertama ITERA. Mereka dahulu tumbuh bersama sebuah kampus yang juga sedang bertumbuh. Kini, sebagian dari generasi tersebut telah memasuki fase kepemimpinan di dunia profesional dan mulai mengembalikan pengalaman mereka kepada almamater.
Dari generasi pertama, untuk masa depan yang lebih baik.
