Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro ITERA melaksanakan Kerja Praktik di PLTP Ulubelu

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro ITERA melaksanakan Kerja Praktik di PLTP Ulubelu

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Elektro (EL) Institut Teknologi Sumatera (ITERA), M. Rafi Imani H, M. Haikal Fabioansyah, Fahreza Nuruzain, dan Arbi Aditya telah melaksanakan Kerja Praktik (KP) di Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK), Bandar Lampung, pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PLTP, Ulubelu. Mahasiswa KP yang dibimbing oleh Bu Tria Kasnalestari, S.T., M.T. ini melakukan kegiatan selama 30 hari kerja.

Rafi atau yang akrab dipanggil Rapoy menjelaskan bahwa terdapat berbagai kegiatan rutin yang biasa dilakukan seperti preventive maintenance yang biasa dilakukan saat pagi dan siang di electrical room maupun bagian instrumentasi. Selain itu juga terdapat weekly meeting setiap hari Senin. Kemudian 30 menit sekali terdapat kegiatan pencatatan kondisi di distributive control system (DCS).

Haikal menjelaskan bahwa “Mulai kegiatan tuh jam 8 pagi untuk melakukan kontrol pagi dan singa. Abis itu juga ada beberapa tim kayak tim operasi dll”. Kemudian haikal pun menambahkan bahwa dalam kegiatan tersebut jika tidak ada trouble maka akan sedikit santai. Namun berbeda di saat terdapat trouble maka tim harus siap dating ke tempat tersebut. Sebelum eksekusi pun, tim harus melakukan diskusi dengan supervisor dll.  

Banyak fasilitas yang didapatkan selama KP di PLTP ini seperti dapur, coffee break, mobil operasional hingga alat alat yang harganya cukup mahal seperti power supply otomatis dan electric calibration transmition. Selain itu, jika terdapat mahasiswa yang lokasi tinggalnya sangat jauh, terdapat tempat tinggal yang bisa disewa sehingga dapat mempermudah akses untuk ke perusahaan. Terkait upah yang didapat di sana, Rapoy menyebutkan bahwa tidak terdapat uang namun mereka mendapatkan project manual fire fighting system yang akan digunakan oleh PLTP tersebut.

Lingkungan kerja pun juga menjadi hal penting ketika kita ingin bekerja di suatu tempat. Haikal mengatakan, “Butuh adaptasi terhadap lingkungan, cuma setelah penyesuaian dengan para staf sehingga lama-kelamaan akan membaur. Terus juga, jangan malu-malu buat bertanya, kan ada istilah tuh malu bertanya sesat di jalan, makanya kita yang perlu inisiatif, kita yg butuh dan kita yang ngegerakin sehingga tanya apa yg dibingungin. Selain itu orang orang sana mudah berbaur dan suka bercanda jadi suasana terasa nyaman.” Rapoy pun memberi sedikit tambahan, “Di sini tuh memandang jabatan saat di ruangan tapi sama rata saat dilapangan. Walaupun ada yang adidaya, ketika di lapangan kita saling tuker ilmu.” Selain mahasiswa ITERA, rupanya terdapat juga empat mahasiswa EL Universitas Lampung (UNILA) dan Teknik Mesin UNILA.

Setelah melaksanakan KP, keempat mahasiswa EL ini pun juga tergerak untuk melanjutkannya sampai ke tahap Merdeka Belajar Kuliah Merdek (MBKM) dan juga Tugas Akhir (TA). Mereka pun telah berusaha menghubungi beberapa dosen yang terkait dengan MBKM seperti Pak Purwono Prasetyawan, S.T, M.T. dan Pak Syamsyarief Baqaruzi, S.T., M.T. Hal ini karena mereka merasa dengan TA di tempat tersebut akan lebih banyak dapat ilmu dan juga bisa lebih mudah mendapatkan data real dibandingkan dengan melaksanakan TA di kampus saja. Sedangkan, terkait korelasi mata kuliah yang sudah didapat dengan kegiatan yang dilakukan selama KP, Haikal mengatakan bahwa banyak sekali materi perkuliahan yang bisa diimplementasikan di sana. Selain itu juga terdapat berbagai materi lain yang tidak diperoleh saat perkuliahan.

Di akhir sesi wawancara, Rapoy dan Haikal memberikan beberapa kesan dan pesan baik ke Prodi maupun ke mahasiswa yang akan melaksanakan KP nantinya. Haikal menyebutkan, “sebaiknya Prodi mengadakan mata kuliah Gambar Teknik dan juga mahasiswa tuh difokuskan arahnya ke mana.” Lanjut Rapoy, “Iya bener karena kita bingung banget pas pertama kali menghadapi manual book yang sebegitu banyaknya sehingga harus belajar dari awal, terus barus belajar single line diagram. Terus juga pas semester 5 atau 6 mahasiswa tuh diarahin dan ditanya mau KP dimana.

Rapoy menambahkan, “Dalam pembangkit itu ada yang disebut dengan mayor overhaul (MO). Jadi mungkin Prodi bisa mencari info terkait pembangkit yang sedang turun mesin. Karena saat overhaul, semua mesin dibongkar yang umumnya selama sebulan. Jadi mahasiswa dikirim ke sana sehingga bisa dapet pengalaman sekalian konversi KP atau Ujian Akhir Semester. Jadi mahasiswa ga kaget lagi saat masuk dunia kerja.”

Untuk mahasiswa, Rapoy memberikan beberapa saran, “Jaman sekarang sarjana bukan lah suatu hal yang menjamin kerja namun hanya untuk membantu jenjang karir saja. Jadi perlu pengalaman lain. Basic dalam kerja tu ada 3, yaitu komunikasi, ilmu, dan etika, karena kita ga tau bakal kerja di mana, kerja dengan siapa, dan lain-lain”.

Penulis Alif Naufal Rizki, Mahasiswa Teknik Elektro ITERA 2019
Editor Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *