Kembangkan Devais Nanoelektronik, Mahasiswa dan Dosen Teknik Elektro ITERA Ikuti Mobility Program di Malaysia

Kembangkan Devais Nanoelektronik, Mahasiswa dan Dosen Teknik Elektro ITERA Ikuti Mobility Program di Malaysia

Natasya Salsabiila (Nata) yang merupakan mahasiswi dari Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sedang mengikuti Mobility Program yang diadakan oleh Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Batu Pahat, Johor, Malaysia, Malaysia. Adapun program ini berlangsung pada 20 Juni – 18 Juli 2022 secara luring di Sensor Devices Research Laboratory, Microelectronics and Nanotechnology – Shamsuddin Research Centre (MiNT-SRC), UHTM, dan 19 Juli – 20 Agustus 2022 secara daring.

MiNT-SRC adalah pusat riset yang dimiliki oleh UTHM dan terdiri dari beberapa laboratorium, seperti Sensor Devices, Biomedical Optics, Bioartificial Organ and Physiome Simulation, Bioelectronic and Intrumentation, VLSI Architecture and System Design, Nanolithography, Solar Device, Inorganic Thin Film Materials, dan System on Chip and TCAD.

Penyambutan peserta Mobility Program oleh Dekan FKEE Prof. Madya Dr. Rosli bin Omar.

Dalam melakukan kegiatan riset, mahasiswa angkatan 2019 tersebut dibimbing oleh dosen Prodi Teknik Elektro ITERA Dr. Suratun Nafisah, S.Si., M.Sc. dan principle researcher MiNT-SRC Dr. Marlia Binti Morsin. Selain Natasya, terdapat beberapa anggota lain yang tergabung dalam riset tersebut yaitu dua mahasiswa S1 asal UTHM, Muhammad Hanif bin Hasbullah dan Anwar bin Abdul Alip serta dua mahasiswa S2 asal Universitas Riau (UNRI), Nashiha Chalvi Syahra, S.Si. dan Muhammad Asnawir Nasution, S.Si..

Adapun topik dalam riset yang dilakukan adalah pengembangan sensor optik berbasis nanomaterial dan Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) yang merupakan devais nanoelektronik. Lebih lanjut, program yang tengah ia ikuti ini akan dikonversi menjadi Kerja Praktik (KP) dan project Tugas Akhir.

Karakterisasi FESEM untuk melihat morfologi nanomaterial emas yang telah disintesis.

Saat ini adalah kali pertama untuk Nata ke luar negeri, “Awalnya sempat merasakan culture shock karena perbedaan jam antara Indonesia dan Malaysia. Ketika di Indonesia masih pukul 6 pagi, di Malaysia sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Jadi, walaupun langit masih gelap dan udara masih dingin khas fajar, harus tetap berangkat ke laboratorium,” tuturnya. Keseharian kegiatan yang dilakukan mulai dari jam 7 pagi  sudah harus berada di lab hingga jam 3 subuh.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari selama program ini menurut Nata seperti mampu mengoperasikan instrumen yang belum ada di kampus, kemudian belajar bagaimana kerja sama dalam sebuah tim. Hal ini karena anggota tim riset terdiri atas mahasiswa S1 dan S2 yang berbeda daerah, bahasa, negara, dan pola pikir. Hal lainnya adalah tentang disiplin dan manajemen waktu terkait tahapan-tahapan riset yang dilakukan.

Karakterisasi spektrofotometri UV-Vis untuk melihat sifat optik nanomaterial emas yang telah disintesis.

“Tantangan selama mengikuti program ini adalah bahasa. Walaupun Indonesia dan Malaysia satu rumpun, tetap ada kosakata-kosakata yang asing dan sukar untuk dipahami. Jadi, jalan tengahnya adalah dikombinasikan dengan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.” ucap Nata lebih lanjut.

Dr. Suratun mengungkapkan bahwa program ini merupakan salah satu wujud kerja sama yang terjalin antara ITERA dan UTHM dalam bidang pendidikan dan penelitian. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa melalui program ini, dapat membantu tercapainya beberapa indikator dalam Indikator Kerja Utama (IKU).

“Sukanya itu, di sini kan banyak ketemu orang-orang baru, banyak ketemu orang-orang hebat dalam satu tempat gitu, dan itu merupakan suatu hal yang belum pernah ditemukan di prodi kita. Kalau di prodi kita kan hanya sesame S1 gitu, kalau di sini semua membaur dan saling membantu, ” lanjutnya.

“Selain suka pasti ada duka yang dirasakan selama mengikuti program seperti saat proses sintesis material harus berada di lingkungan yang sesuai standar yang mana sering sekali fail tidak mendapat hal yang diinginkan dikarenakan setiap komponen berada di skala nano yang rentan terhadap lingkungan. Selain itu, dalam proses penumbuhan yang dilakukan kadang harus menunggu hingga 8 jam dan sering terjadi kegagalan yang menyebabkan harus mengulang semua yang sudah dibuat. Tak hanya itu dalam proses pengambilan data pun juga harus cepat karena jika terlambat sedikit akan menyebabkan kegagalan sensor. Besar harapan saya agar program ini dapat terus berlangsung dan semakin banyak mahasiswa yang tertarik dengan kegiatan riset nanoteknologi seperti ini.” ucap Dr. Suratun lebih lanjut lagi.

Proses sintesis nanomaterial emas menggunakan metode Seed Mediated Growth (SMG).

Sementara itu, Dr. Marlia turut mengungkapkan bahwa Mobility Program ini dapat membentuk kerja sama yang baik antara ITERA dan UTHM dalam segi riset, melalui peningkatan sumber daya, fasilitas, dan keahlian. Lebih lanjut, dengan adanya program ini dapat menjadi ajang sharing lesson terkait riset yang tengah dikembangkan oleh masing-masing perguruan tinggi.

“Saya harap program ini dilanjutkan dengan beberapa pengembangan output seperti penerbitan jurnal berimpak tinggi, hibah kerja sama internasional, dan sharing keahlian akademik.” pungkasnya.

Penulis Natasya Salsabiila dan Alif Naufal Rizki, Mahasiswa Teknik Elektro ITERA 2019
Editor Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *