Dosen Teknik Elektro ITERA Raih Predikat Senior Member IEEE

Dosen Teknik Elektro ITERA Raih Predikat Senior Member IEEE

Salah satu dosen Program Studi Teknik Elektro Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D., memperoleh predikat Senior Member pada organisasi profesi internasional Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), pada Selasa (20/04//2001). Adapun pemberitahuan tersebut dikirimkan melalui email resmi senior-member@ieee.org pada 02.50 WIB oleh Amarnath Raja, Chair, IEEE Admission and Advancement Committee. Dosen yang telah mempublikasikan karyanya sejak 2013 tersebut, mampu menjadi salah satu dari 54 peneliti Indonesia yang berpredikat Senior Member IEEE. Dalam wawancara online melalui platform Google Meet yang dilakukan pada Selasa (20/04/2021) pukul 13.00 WIB, beliau menyampaikan beberapa informasi yang berkaitan dengan IEEE.

Secara umum, IEEE merupakan organisasi profesi nirlaba yang terdiri atas para ahli dan peneliti di bidang teknik, dalam rangka percepatan perkembangan teknologi secara global. Organisasi elit ini didirikan pada 1 Januari 1963 dan telah memiliki 238.032 anggota di seluruh dunia (per 20 April 2021) terutama berasal dari United States of Amerika (USA) dan Eropa; dengan 31.148 merupakan Senior Member, 106.233 Member, 42.573 Student Member, 30.938 Graduate Student Member, 13.042 Life Member, 5.953 Life Senior, 3.341 Fellow, 2.727 Life Fellow, 1.805 Associate Member, 54 Society Affiliate, dan 6 Standards Association Member. Sedangkan anggota IEEE yang berasal dari Indonesia berjumlah 1.734; dengan 400 Student Member, 277 Graduate Student Member, 25 Associate Member, 54 Senior Member, 6 Life Member, dan 4 Life Senior. Untuk domisili di Provinsi Lampung, terdapat 22 orang yang merupakan anggota IEEE, dengan 9 orang diantaranya merupakan dosen di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan Dr. Reza sebagai satu-satunya Senior Member.

Dosen yang lulus Sarjana dan Master Degree di Institut Teknologi Bandung (ITB), berturut-turut tahun 2004 dan 2012, juga menuturkan benefit yang didapatkan apabila menjadi Senior Member, diantaranya dianggap lebih berpengalaman, lebih dipertimbangkan, dan lebih dipercaya sehingga dapat disitasi oleh peneliti lainnya. “Untuk menjadi Senior Member, tidak ada minimum tulisan yang dipublikasikan pada portal IEEE, tetapi bergantung pada panel reviewer yang mengindikasikan pengalaman profesional kita dalam memenuhi persyaratan. Kalau bisa, tidak hanya dari peneliti senior Indonesia, tetapi juga rekomendasi dari peneliti internasional terutama dari Fellow IEEE. Saya mendapatkan rekomendasi dari tiga Fellow (1 Jepang dan 2 United Kingdom (UK)) serta seorang Senior Member di Perancis, sehingga ada total empat rekomendasi dari minimum tiga rekomendasi yang dipersyaratkan,” ucapnya.

Untuk mendapatkan predikat Senior Member IEEE, dapat dilakukan dengan mencalonkan diri ataupun dinominasikan. Ada beberapa kualifikasi umum yang harus dipenuhi seperti: pelamar merupakan insinyur, ilmuwan, pendidik, atau eksekutif teknis; memiliki pengalaman yang mencerminkan profesionalitas; telah berkecimpung dalam praktik profesional minimal 10 tahun; dan mampu menunjukkan kinerja yang signifikan dalam praktik profesional minimal 5 tahun. Dr. Reza mengajukan dengan total pengalaman profesional selama sekitar 15 tahun, yaitu hampir 6 tahun di Industri, 5 tahun untuk PhD degree, dan 5 tahun aktif di Akademia sebagai dosen ITERA. Keanggotaan Senior Member merupakan suatu honor (kehormatan atau penghargaan) yang diberikan kepada mereka atas kontribusinya yang signifikan terhadap keprofesian. Dengan jumlah yang tidak banyak, apalagi di Indonesia yang hanya 3.11% saja dari keseluruhan member, menjadikan Senior Member sebagai predikat yang spesial. Adapun keuntungan lainnya apabila menjadi Senior Member yaitu rekognisi dari peers untuk keunggulan profesional dan teknikal, kelayakan untuk memimpin pada posisi executive volunteer, mendapatkan surat commendation jika diminta, diumumkan pada section/society maupun surat kabar, mendapatkan plakat terbuat dari kayu dan perunggu, serta layak menjadi salah satu pembicara pada distinguished lecture IEEE.

Lebih lanjut, ia juga membahas mengenai tulisan terakhirnya yang dipublikasikan pada 21 Januari 2021 di IEEE Access, Q1, IF 3.745 yang terindeks pada IEEE Xplore, dengan tajuk “Convergent Communication, Sensing, and Localization in 6G Systems: An Overview of technologies, Opprtunities, and Challenge”. Dalam tulisan tersebut, ia bersama dengan tim 20  orang dari 11 afiliasi di Eropa dan 1 di Saudi Arabia, pada program 6G Flagship, Universitas Oulu, Finlandia, membahas mengenai potensi dan peluang konvergensi pada komunikasi, lokalisasi (geolokasi), dan sistem penginderaan di dalam sistem 6G. Dalam tulisan itu pula, dijabarkan mengenai tantangan, implementasi, serta solusi-solusi potensial dalam pengembangan 6G kedepannya seperti intelligent reflecting surface, teknologi THz, dan kecerdasan buatan (AI). Lebih lanjut, tulisan tersebut memuat peluang-peluang baru dalam hal lokalisasi terintegrasi yang dapat merevolusi kehidupan menjadi semakin modern. Dengan menyediakan layanan pelokalan dengan akurasi tinggi dan penginderaan resolusi tinggi, 6G akan menjadi sistem nirkabel cerdas yang berperan sebagai katalisator revolusi. Dalam beberapa tahun ke depan, lokalisasi dan penginderaan akan hidup berdampingan dengan komunikasi.

Dosen yang lulus PhD Degree tahun 2016 di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) itu juga menuturkan motivasinya mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah sejak 2013 hingga 2021. “Ketika saya masih mahasiswa PhD, salah satu sensei saya, Dr. Eng. Khoirul Anwar, mengatakan bahwa kalau tidak publikasi, seperti menebang pohon besar di tengah hutan. Orang tidak akan tahu kita sedang melakukan pekerjaan besar yang mungkin dapat mengubah kehidupan manusia. Selain itu, makin banyak tulisan kita di jurnal bereputasi tinggi serta banyak disitasi, maka akan meningkatkan kualitas kita sebagai peneliti dan memudahkan untuk membangun jaringan ilmiah di dalam dan luar negeri,” ujarnya. Di akhir sesi wawancara, ia berharap lebih banyak dosen, mahasiswa, dan peneliti Lampung, khususnya yang berasal dari ITERA, untuk bergabung dalam IEEE dan mempublikasikan penelitiannya. Diharapkan juga agar mahasiswa ITERA dapat membentuk student branch IEEE. Ia juga mengungkapkan harapannya kepada mahasiswa ITERA, terkhususnya yang berasal dari Program Studi Teknik Elektro, agar mempublikasikan Tugas Akhir Capstone Design yang telah dibuat kedalam bentuk jurnal, setelah didaftarkan paten atau HAKI. Hal ini dilakukan semata-mata untuk kontribusi kepada masyarakat serta sebagai rujukan penelitian dan pengembangan selanjutnya oleh peneliti lain di Indonesia maupun dunia.

Oleh Natasya Salsabila, Mahasiswa Teknik Elektro, ITERA.
Lampung Selatan, 21 April 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *