Program Studi Teknik Elektro

"Institut Teknologi Sumatera"

               

Menulis Persamaan (Equation) pada Tulisan Ilmiah Secara Profesional


May 21st, 2019 | Posted by: Muhammad Reza Kahar Aziz, PhD


Berikut ini adalah guideline (panduan) yang ditemukan di dalam template IEEE Access tentang bagaimana menulis persamaan atau equation yang tepat. Tanda quote ” ” dipakai bahwa kalimat tersebut copy paste dari panduan tersebut. Beberapa command atau perintah merupakan bagian dari LaTex. Sebenarnya panduan ini ada dalam bentuk paragraf. Akan tetapi, pada tulisan ini, tiap kalimat saya pisahkan menjadi poin-poin tersendiri untuk dibahas lebih detail.

“Number equations consecutively with equation numbers inparentheses flush with the right margin, as in (1).”

Nomor persamaan (equation number) diletakkan pada sebelah ujung kanan kolom. Sedangkan letak persamaan berada pada tengah kolom. Persamaan tersebut dengan nomornya ditulis secara berurutan dan sejajar dalam satu baris. Jika persamaan terdiri lebih dari satu baris maka nomornya ditulis sejajar dengan baris tengah persamaan. Contohnya dapat dilihat pada (1) poin keempat di bawah ini.

Apabila kita menggunakan fungsi \begin{equation} \end{equation} pada LaTex maka susunan penulisan dengan nomornya sudah tertata rapi secara otomatis.

“To make your equations more compact, you may use the solidus ( / ), the exp function, or appropriate exponents.”

Suatu artikel pada tulisan ilmiah pada jurnal maupun prosiding seminar memiliki ruang yang terbatas. Kita dapat membuat suatu persamaan menjadi lebih padat ringkas dengan menggunakan tanda solusi ( / ) untuk pecahan, fungsi eksponen yang ringkas seperti exp( ) daripada e^{ }, dll. Fungsi e^{ } akan menghasilkan penulisan dalam bentuk pangkat sehingga memerlukan tambahan ruang karena operator ^ di dalam LaTex merupakan untuk menulis pangkat.

“Use parentheses to avoid ambiguities in denominators.”

Tulisan karya ilmiah juga harus crystal clear, yaitu jelas, jernih, bersih, bagaikan suatu kristal yang bening. Tidak ada tempat untuk suatu yang ambigu yaitu kalimat yang membuat pembaca bingung maksudnya. Oleh karena itu, di dalam menulis persamaan, salah satu cara untuk menghindari ambigu pada saat penulisan penyebut dalam suatu pecahan adalah menggunakan tanda dalam kurung ( ). Sebagai contoh adalah A=(B/C)/D.

“Punctuate equations when they are part of a sentence, as in

E = m \cdot c^2.       (1)”

Hal ini merupakan salah satu yang paling banyak ditemukan sebagai kesalahan umum atau common mistake. Banyak penulis yang tidak menuliskan tanda baca pada suatu persamaan. Seolah persamaan bukanlah suatu bagian dari kalimat melainkan berdiri sendiri. Pemberian tanda baca berupa titik maupun koma menunjukkan bahwa persamaan adalah bagian dari suatu kalimat.

Pernah juga ada naskah yang diberi komentar oleh pemeriksa (reviewer) agar memberikan tanda baca pada persamaan yang ditulisnya. Ketika naskah yang direvisi oleh penulis sudah diserahkan ulang (resubmit), ternyata tanda baca titik dan koma ditulis setelah nomor persamaan. Perlu diketahui bahwa nomor persamaan bukan bagian dari kalimat. Akan tetapi, persamaan tersebutlah yang merupakan bagian dari kalimat.

Jika persamaan tersebut ada di akhir kalimat maka berikanlah tanda baca titik seperti yang ditunjukkan pada (1). Perlu diketahu bahwa di dalam (1) tersebut adalah fungsi LaTex \cdot yang merupakan operator perkalian dalam bentuk titik yang posisinya ada pada tengah vertikal.

Sedangkan jika persamaan belum selesai karena dilanjutkan dengan kata “dimana” atau “where” karena kita ingin segera (immediately) menuliskan definisi tiap simbol dalam persamaan tersebut maka di akhir persamaan diberikan tanda baca koma.

“Be sure that the symbols in your equation have been defined before the equation appears or immediately following.”

Para penulis juga sering terlewat dalam mendefinisikan simbol yang dipakainya saat menulis persamaan. Padahal kita perlu menuliskan definisi semua simbol sebelum simbol itu muncul dalam suatu persamaan atau langsung ditulis setelah persamaan tersebut. Jika seluruh simbol sudah dituliskan definisinya, maka biasanya suatu persamaan diakhiri dengan tanda baca titik. Sedangkan jika definisi baru langsung ditulis setelah persamaan maka di akhir persamaan diberikan tanda baca koma dan diikuti kata “dengan” atau “where“.

Ada suatu kebiasaan yang banyak ditemukan dalam menuliskan definisi simbol yang mengikuti setelah persamaan dengan bentuk list simbol, bukan dalam bentuk paragraf. Oleh karena itu, saya minta ke penulis agar melihat artikel pada IEEE Transaction bagaimana cara menulis definisi simbol. Sebagai contoh yang salah adalah

d = c \cdot t          (2)

d = jarak (m)
c = kecepatan cahaya (3 \cdot 10^8 m/detik)
t = waktu (detik)
yang seharusnya ditulis sebagai

d = c \cdot t,          (2)

dimana d adalah jarak dalam satuan m, c adalah kecepatan cahaya yang bernilai 3 \cdot 10^8 m/detik, dan t adalah waktu dalam satuan detik.

Jika ditulis dalam bahasa Inggris maka menjadi

d = c \cdot t,          (2)

where d is the distance in the unit of m, c is the velocity of light in 3 \cdot 10^8 m/s, and t is the time in the unit of s. Kata “is” bisa juga diganti dengan “denotes” sebagai variasi.

Bentuk variasi lain dalam menulis definis juga bisa dengan urutan dan diakhir dengan kata “, respectively“. Perlu tanda baca koma sebelum “respectively“, dimana masih ditemukan penulis yang lupa menuliskan tanda baca koma. Contohnya dapat dilihat berikut ini,

d = c \cdot t,            (2)

where d, c, and t are the distance in the unit of m, the velocity of light in 3 \cdot 10^8 m/s, and the time in the unit of s, respectively.

Penulisan definisi simbol dalam bentuk paragraf menunjukkan suatu bentuk penulisan yang profesional. Sedangkan penulisan definisi simbol dalam bentuk list membuat pembaca berfikir seperti dalam kondisi mengerjakan latihan soal atau ujian yang menggunakan rumus seperti matematika, fisika, dan lainnya.

“Italicize symbols (\textit{T} might refer to temperature, but T is the unit tesla).”

Begitu juga masalah penulisan simbol terutama di dalam kalimat biasa, bukan di dalam persamaan, banyak ditemukan simbol ditulis bukan dalam italic. Biasanya saya akan meminta penulis untuk mengganti font untuk simbol dengan italic atau dalam LaTex ditulis dalam $ $ yang merupakan penulisan simbol matematika. Jika penulis menggunakan words maka saya minta penulis memakai equation editor pada saat menulis simbol.”

“Refer to “(1),” not “Eq. (1)” or “equation (1),” except at the beginning of a sentence: “Equation (1) is….””

Poin terakhir dari panduan IEEE Access dalam menulis persamaan adalah langsung saja menulis angka dari nomor persamaan tersebut dengan di dalam kurung yaitu “(1)” bukan dengan “Eq. (1)”, “equation (1)”, atau dalam bahasa Indonesia “persamaan (1)”. “Equation (1)” atau “Persamaan (1)” dipakai jika digunakan pada awal kalimat. Hal ini mirip dalam menuliskan nomor gambar yaitu “Fig. 1” kecuali di awal kalimat menggunakan “Figure 1”.

Sebagai tambahan selain dari poin-poin di atas, beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah pisahkan antara satuan dengan nilainya dengan satu spasi, contohnya 2 m bukan 2m. Untuk penulisan luas maka tulislah 3 m x 3 m bukan 3 x 3 m^2.

Semoga tulisan ini dapat sedikit membantu para penulis pemula dalam Karya Ilmiah untuk memulai suatu persamaan dengan profesional sehingga tidak diminta oleh reviewer untuk merevisi tulisannya.

oleh Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D.

Muhammad Reza Kahar Aziz, S.T., M.T., Ph.D.

Kunjungi dan Like Facebook Page Kesalahan Umum dalam Menulis Karya Ilmiah untuk mengikuti yang lainnya.


Tinggalkan Komentar



Copyright © 2016 UPT TIK - Institut Teknologi Sumatera (ITERA)